Tak Lagi Ramah Lingkungan (27 KK Masih Bertahan)

Tak Lagi Ramah Lingkungan (27 KK Masih Bertahan)
Posted by:

Penambangan ramah lingkungan, dengan slogan harmoni bersama lingkungan yang selama ini didengungkan PT BA Tbk (Persero) Tanjung Enim, patut dipertanyakan. Soalnya, kegiatan penambangan batubara yang dilakukan perusahaan BUMN tersohor ini, terkesan sudah tak ramah lingkungan lagi.Terbukti, demi kepentingan bisnis, perusahaan pelat merah ini, rela mengorbankan masyarakat maupun asetnya sebagai lokasi penambangan.Itu semua dilakukan diduga semata mata hanya mengejar profit alias keuntungan sebanyak mungkin demi mempertahankan sahamnya di lantai bursa.

Alasan lain, karena lahan yang ditempati masyarakat tersebut merupakan lahan PT BA. Perusahaan ini sepertinya mengesampingkan masalah sosial yang timbul ditengah masyarakat sebagai dampak akibat penambangan. Dampak sosial penambangan itu, seperti yang dirasakan masyarakat Bukit Munggu dan Bedeng Kresek, Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul. Setidaknya, ada 233 Kepala Keluarga (KK) yang telah puluhan tahun turun temurun tinggal di Bukit Munggu dan Bedeng Kresek, kini ketenangannya telah terusik.

Tarena tambang batubara PT BA telah merambah pemukiman mereka. Sekitar April 2016 lalu, manajemen PT BA diduga telah ‘memaksa’ relokasi warga Bukit Munggu dan Bedeng Kresek untuk pindah ketempat yang telah disiapkan di kompleks Bara Lestasi, Desa Keban Agung, Kecamatan Lawang Kidul. Meski sebelumnya, PT BA telah melakukan sosialisasi dan memberikan uang ganti rugi kepada warga yang direlokasi. Namun tak seluruh warga bersedia direlokasi. Setidaknya, ada sekitar 27 KK masih bertahan di daerah itu mempertahankan haknya.

Mereka bertahan, karena uang ganti rugi yang diberikan PT BA, tak sebanding dengan aset yang mereka miliki.
Sedangkan, 206 KK lagi dengan terpaksa menerima uang ganti rugi tersebut dan pindah ke lokasi yang telah disiapkan PT BA di komplek Bara Lestari.Namun, 27 KK yang menolak direlokasi, akhirnya satu persatu mulai meninggalkan tempat tinggalnya mencari pemukiman yang baru. “Kami sudah tidak bisa lagi bertahan hidup disini Pak. Karena lokasi tambah sudah sampai dibelakang rumah. Debu tambang setiap hari masuk ke rumah dan kami hirup,” jelas warga yang tengah mengemasi barangnya untuk pindah diangkut pakai mobil saat dijumpai, Rabu (9/11). Di kompleks Bara Lestari tersebut, PT BA hanya menyiapkan lahan perumahan untuk dibangun rumah kembali bagi warga yang direlokasi. Sayangnya, fasilitas di Bara Lestari tak seperti apa yang telah dijanjikan manajemen PT BA saat sosialisasi sebelum dilakukan direlokasi. Fasilitas yang baru tersedia penerangan lampu listrik PLN dan sarana air bersih baru tahap uji coba.

Sedangkan jalan menuju lokasi tersebut, kondisinya masih jalan tanah merah. Sehingga pada musim penghujan saat ini, jalan berlumpur dan sangat menyulitkan warga untuk berjalan kaki maupun mengendarai sepeda motor. Kondisi itu membuat warga yang tinggal di daerah itu menjadi menderita, karena mengalami kesulitan untuk keluar rumah. Padahal, PT BA telah berjanji akan mengaspal badan jalan tersebut. Kenyataannya, jalan tersebut belum dilakukan pengerasan apalagi diaspal. Tetapi apa boleh buat, warga hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang mereka alami. Relokasi Bukit Munggu dan Bedeng Kresek oleh PT BA merupakan ketiga kalinya. Sebelumnya, akhir 2013 lalu, PT BA telah merelokasi pemukiman warga di Karantina dan Atas Dapur, Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul. Kampung yang mereka tempati dijadikan lokasi penambangan batubara.

Mereka direlokasi ke pemukiman yang telah disiapkan PT BA di Bara Lestri. Di komplek Bara Lestari itu, pihak PT BA telah membangunkan rumah dengan ukuran berfariasi untuk ditempati masyarakat. Sebelum direlokasi, pihak PT BA telah melakukan sosialisasi kepada warga Karantina dan Atas Dapur. Pada sosialisasi tersebut, PT BA menjanjikan akses keluar mudah, jalan aspal hotmix, disiapkan sarana listrik dan air. Tersedia fasilitas umum masjid, sarana olahraga. Namun pada kenyataannya, jalan ke lokasi itu belum juga diaspal hotmix dan fasilitas umum yang disiapkan hanya masjid. Kemudian sertifikat rumah yang dijanjikan menjadi hak milik masyarakat, sampai sekarang belum juga diberikan.

“Kami merupakan masyarakat relokasi dari Karantina dan Atas Dapur. Kami sudah 4 tahun tinggal di komplek Bara Lestari, tetapi jalan menuju lokasi belum juga diaspal hotmix,” jelas Andre korban relokasi Karantina.
Diungkapnya, janji PT BA yang akan memberikan surat sertifikat tanah dan rumah yang mereka tempati, sampai sekarang belum juga direalisasikan. Sementara, Westi Mayundra, seorang warga Bukit Munggu, bersama 26 warga lainnya yang menolak direlokasi, mengaku telah mengadukan manajemen PT BA ke Komisi Nasional (Komnas) Hak Azasi Manusia (HAM). “Pada 27 Juli 2016 lalu, secara resmi kami telah mengadukan PT BA ke Komnas HAM soal relokasi penambangan ini,’’ ujarnya.

Terpisah, Direktur Produksi PT BA Tbk Persero Tanjung Enim, Joko Pramono, yang berhasil dikonfirmasi, enggan berkomentar banyak seputar kegiatan penambangan yang telah merambah pemukiman warga tersebut. “Area Bedeng Kresek dan Bukit Munggu adalah area Hutan. Lahan tersebut merupakan IPPKH PT BA untuk keperluan penambangan akan kita lakukan tata ulang seperti area atas Dapur,” jelas Joko melalui pesan singkatnya awak media, Jumat (11/11).

Pantauan di lapangan, lokasi pemukiman masyarakat di Bukit Munggu dan Bedeng Kresek, kini kondisinya telah menjadi lautan lobang besar. Desingan suara alat berat telah terdengar meratakan rumah penduduk dan pepohon yang sebelumnya tumbuh sumur. Fasilitas umum yang ada di daerah itu seperti tempat penampungan air untuk warga yang dibangun melalui program PNPM, sudah porak poranda. Kegiatan penambangan itu, jaraknya tinggal hanya sekitar 50 meter lagi dari bagian belakang rumah warga yang masih bertahan di lokasi tersebut. Penambangan itu tidak saja meratakan rumah warga Bukit Munggu dan Bedeng Kresek, tetapi telah meratakan taman PT BA yang berada di depan Rumah Sakit PT BA.

Tambang tersebut kini letaknya sekitar 100 meter lagi dari rumah sakit. Sehingga jika musim kemarau, tidak menutup kemungkinan debu tambang, akan masuk ke dalam rumah sakit maupun ke perumahan karyawan PT BA di Tongsite.
Untuk menutupi kegiatan penambangan yang merambah pemukiman dan aset tersebut, manajemen PT BA terkesan telah menutupi dengan membuat isu program “Tanjung Enim Kota Wisata”. Untuk memuluskan program tersebut, beberapa masyarakat yang selama ini konsen mengkritik kegiatan penambangan tersebut, telah dilibatkan perusahaan BUMN ini dalam tim Tanjung Enim Kota Wisata itu. (tim)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses