Terancam Gulung Tikar

Terancam Gulung Tikar
Posted by:

KEBIJAKAN pemerintah yang menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sangat berdampak luas terhadap daya beli masyarakat. Tak hanya itu, kondisi daya beli yang menurun ini, ditambah dengan kebijakan lainnya yang makin menghimpit perekonomian rakyat. Bukan itu saja, harga-harga komoditi seperti karet yang makin anjlok, makin membuat perekonomian Indonesia khususnya Sumsel yang sangat bergantung pada karet lesu.
Kebijakan-kebijakan tersebut yakni kenaikan harga gas elpiji 3 kilogram (kg) yang akan diringi kenaikan gas elpiji 12 kg, selanjutnya kenaikan tarif listrik, ongkos kereta api  (KA). Tak pelak  hal ini membuat menurunnya daya beli masyarakat terutama yang income perkapita di bawah standar.
Menurunnya daya beli masyarakat ini, tentu saja berdampak menurunnya penjualan semua produk dagangan baik yang sifatnya kebutuhan pokok baik primer, sekunder dan tersier. Jika ini terjadi, maka dampak luasnya terjadi pada geliat ekonomi seperti usaha baik kecil maupun besar yang tak bergairah dan lesu untuk bersaing.
Hal ini dikarenakan usaha-usaha jalan tidak tempat dengan mengalami kerugian hingga berdampak pada eksistensi usaha tersebut hingga berdampak pada pengangguran yang meningkat. Sudah selayaknya kondisi dapat ini dicegah jika pemerintah mematangkan kebijakannya hingga tak berdampak pada masyarakat secara luas.
Penurunan daya beli ini, membuat sejumlah usaha terancam gulung tikar. Salah satu usaha yang menurun adalah jual beli mobil. Meskipun sudah memasuki kwartal pertama di 2015 ini, penjualan otomotif sampai saat ini masih melamban. Hal ini disebabkan demand yang masih sedikit, karena harga komoditas di Palembang khususnya di Sumatera Selatan masih melemah, termasuk ekonomi dan juga pengetatan kredit.
David Susilo Operation Manager Encar Daihatsu menjelaskan, jika sampai saat ini penjualan  mobil masih rendah sekali. “Sampai Maret 2015 ini penjualan mobil di Encar Daihatsu masih kurang lebih sekitar 300 unit. Dan ini untuk semua tipe,”kata David.
Ditambahkan David, untuk itulah pihaknya untuk mengatasi hal ini melakukan terobosan. Seperti memberikan layanan kemudahan memiliki  mobil seperti trade in, promo uang muka murah. “Malahan kita juga menggelar promo jual beli tukar tambah  untuk semua tipe mobil,”katanya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Martin Anvetama, salah satu pengusaha otomotif di Kota Palembang ini. Diakui David, jika saat ini pembelian kendaraan bermotor khususnya roda empat sangat menurun sekali. Hal ini disebabkan karena pengaruh komoditas yang sangat turun juga dan perang uang muka yang jor-joran sekali.
“Apalagi selama ini diketahui hampir rata-rata konsumen mobil itu dari daerah. Jika penjualan otomotif yang sepi ini kebanyakan hanya terjadi di pulau Sumatera khususnya Sumsel dan berbanding terbalik dengan daerah Jawa dan Jakarta,”kata Martin lagi.
Untuk itulah kata Martin, saat ini pihaknya focus melakukan penjualan untuk mobil kecil seperti mobil city car dan mobil APV. Tetapi untuk mobil mobil besar seperti truk, dump truk dan sejenisnya banyak yang gulung tikar. “Karena saat ini daya beli masyarakat membeli mobil tak seperti dulu lagi. Karena akan banyak pertimbangan yang dilakukan sebelum membeli. Pastinya harus berdasarkan kebutuhan tidak berdasarkan gaya hidup,”tandasnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumsel, Sumarjono Saragih mengatakan, kondisi ekonomi saat ini memang tidak stabil. Banyak pengusaha yang mengeluhkan kondisi, akibat menurunnya transaksi pembelian. “Namun untuk gulung tikar sejauh ini saya belum terima laporan. Yang ada, mereka mengurangi aktifitas dagang. Ya, sebagai pengusaha kita harus tetap survive sambil menunggu perekonomian stabil,” ungkapnya.
Sementara Ketua Gapkindo Sumsel, Alex K Eddy mengaku, harga karet sejak satu tahun terakhir belum membaik. Bahkan, cenderung terus turun sehingga mempengaruhi pendapatan masyarakat khususnya di daerah penghasil karet.
“Sekarang harga karet itu sudah sekitar 1.4 USD perkgnya. Bayangkan, dulu sempat menyentuh 5 USD perkg. Ini sangat prihatin sekali. Sekarang petani sudah sangat mengeluh karena harga yang turun,” ujar dia.
Banyaknya negara-negara baru yang ikut menghasilkan karet, menurut Alex, menjadi pemicu dari anjloknya harga karet. “ Sekarang Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar juga sudah banyak perkebunan karet dan sekarang juga sedang panen. Akibatnya, karet banjir di pasaran dunia, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendorong pemerintah agar segera membantu mendongkrak harga karet ini. Tapi, memang belum ada hasil. Sekarang, sedang diupayakan agar semua negara-negara tersebut bisa duduk satu meja, untuk membahas masalah ini,” ujar dia.
Untuk itu, lanjut Alex, pihaknya berharap agar segera dibangun industri hilir sehingga karet lebih banyak dipakai di dalam negeri. “Sekarang ini memang tergantung dengan pasar luar negeri. Memang terkendala modal dan SDM, tapi ini jalan untuk meningkatkan lagi permintaan karet,” beber dia.
Berbeda dengan otomotif, untuk busana meski mengalami penurunan namun tidak terlalu signifikan. Hal yang lain diungkapkan oleh Tria Gunawan, desainer yang juga pengusaha garmen khusus kain khas Palembang. Menurutnya saat ini dia malah tak terpengaruh oleh anjloknya harga komoditas.
“Order masih banyak. Apalagi saat ini banyak masyarakat yang selalu meminta agar kita selalu menghadirkan desain desain baru untuk mereka pakai,”jelas Tria. (rob/ove/ika)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses