Visa Haji Terlambat, Salahkan Sistem Baru

Visa Haji Terlambat, Salahkan Sistem Baru
Ilustrasi. foto: Net
Posted by:

JAKARTA – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyalahkan sistem online e-Hajj, sebagai penyebab keterlambatan pengurusan visa jemaah calon haji (JCH) di beberapa daerah.

Dengan cara baru ini, kata Lukman, pemerintah Saudi Arabia mengeluarkan kebijakan baru dengan penerapan e-Hajj. Yakni sebuah sistem di mana seluruh data jemaah haji terhimpun dalam sebuah paket data berbasis elektronik.

Dari situ menjadi syarat keluar tidaknya visa bagi jemaah haji seluruh dunia. Dalam sistem baru ini, Indonesia dan India menjadi pilot project. Namun, visa baru bisa dikeluarkan setelah adanya kejelasan pemaketan berisikan data tentang di mana pemondokan di Makkah, hotel di Madina, katering di Makah, Arafah dan Mina.

Seluruh info itu harus tergabung dalam paket yang kemudian menjadi isi dari sistem e-Hajj. “Masalah yang sesungguhnya penerapan sistem yang baru, masing-masing kita sedang melakukan penyesuaian implementasinya. Tentu kami memiliki keterbatasan, meratakan profesionalitas para petugas ini menjadi kunci,” kata Lukman dalam rapat kerja di Komisi VIII DPR, Senin (29/8).

Prinsipnya, tegas Lukman, Kemenag ingin menerapkan sistem baru tersebut, meski masih ada masalah yang harus dibenahi. Ia pun mengaku bertanggung jawab terhadap persoalan yang terjadi dalam penerapannya yang belum sempurna, karena baru berjalan tahun kedua.

Bagaimanapun, tambah Lukman, pendekatan online sangat membantu kecepatan dan ketepatan proses, karena besarnya jumlah JCH Indonesia. Hanya karena baru tahap awal, Kemenag masih mencari cara yang tepat untuk ke depan diperbaiki pelaksanaannya.

“Kami tetap bertanggung jawab, bahwa sistem yang baru tahun kedua diterapkan. Saudi Arabia juga trial and error prosesnya. Mengapa kami mendukung e-Hajj, kami merasa sistem ini positif, karena besarnya jumlah jemaah haji kita,” tambah mantan politikus Senayan itu.

Di samping itu, kabar gembira bagi jemaah calon haji (JCH), yang sedang menunggu giliran diberangkatkan ke Tanah Suci. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, mulai tahun depan tidak terjadi lagi pemotongan kuota 20 persen, seperti beberapa tahun terakhir.

“Tahun ini pemerintah Arab Saudi berjanji akan menuntaskan rehabilitasi, tahun depan kembali normal, tidak terpotong 20 persen,” kata Lukman dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, Senin (29/8).

Menurut Lukman, jika perbaikan kompleks Masjidil Haram rampung tahun ini, maka pada 2017 kuota haji Indonesia diperkirakan sekitar 211 ribuan orang, jauh lebih besar dari 2016, yang hanya 168 ribuan jemaah.

Terkait usulan supaya pemerintah melobi Arab Saudi agar membolehkan Indonesia menggunakan kuota haji negara lain, Lukman menjawab sudah pernah dicoba, tapi belum berhasil karena tidak ada regulasinya.

“Sudah disampaikan. Tapi belum bisa karena belum punya regulasinya. Negara lain juga akan meminta perlakuan yang sama. Arab Saudi juga berhati-hati karena dampaknya ke negara lain. Yang jelas kita sudah upayakan,” ujarnya.

Dia menambahkan, celah menggunakan kuota negara lain di ASEAN, hanya ada di Filipina. Sementara Thailand dan Brunei, jemaahnya sudah harus menunggu 2-3 tahun. Lebih parah lagi Singapura 34 tahun dan Malaysia 70 tahun.

Lukman juga mengungkapkan bahwa kondisi 177 jamaah calon haji (JCH) asal Indonesia yang berangkat secara ilegal melalui Filipina, kondisinya memprihatinkan. Ini disampaikan Lukman dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR pada Senin (29/8). Pada kesempatan itu, ia menyatakan ratusan JCH tersebut merupakan korban sindikat yang terorganisir.
“Setelah tujuh sampai sembilan hari mereka berada di detensi imigrasi Filipina, dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, karena penampungan tidak didesain untuk ratusan orang. Mereka dicampur dengan kriminal lain dengan makanan yang tidak cukup baik,” kata Lukman.
Baru sejak dua hari lalu ratusan JCH yang gagal berangkat tersebut dipindah ke KBRI Manila. Namun, hingga saat ini mereka belum diperkenankan otoritas setempat pulang ke tanah air karena masih dalam rangka penyelidikan.
“Tapi kami kementrian agama terus melakukan koordinasi dengan kemenlu secara intens. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka bisa pulang. Mereka mengalami tekanan luar biasa,” pungkas mantan politikus Senayan itu.

#Penyakit Ini Paling Ditakuti Jemaah Haji

Di sisi lain, Menteri Kesehatan, Nila Moeloek membeberkan data penyakit yang belakangan menyerang jemaah haji asal Indonesia. Menurutnya, berdasarkan laporan PPIH hingga Senin (15/8), sebanyak 2.569 jemaah haji mendapat perawatan jalan, 50 jemaah telah rawat inap dan 63 jemaah dilakukan rujukan.

Dari jumlah itu, ada tiga penyakit yang rata-rata diderita jemaah asal Indonesia. Terbesar jumlahnya adalah Hipertensi. “Untuk penderita rawat jalan telah dilakukan analisis data di kloter menunjukkan proporsi tiga penyakit terbanyak yang diderita oleh jamaah adalah Hipertensi (35%), Myalgia (17%), Headache (10%) dan Acute Nasopharingithis (9%),” ujarnya.

Adapun data Pusat Kesehatan Haji Kemenkes mencatat jumlah dan proporsi jemaah haji dengan risiko tinggi (Risti) yang telah terlaporkan dalam sistem Siskohatkes sebanyak 21.710 orang. Rincian Risti dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan penggunaan warna gelang merah, kuning dan hijau.

Pemakai gelang berwarna merah, yaitu bagi jemaah yang berumur lebih dari 60 tahun dengan risiko penyakit 7.632 jamaah (22,2%); pemakai gelang berwarna kuning yaitu bagi jamaah risti penyakit 11.576 jamaah (34,2%); dan pemakai gelang berwarna hijau yang berumur lebih dari 60 tahun tanpa risiko penyakit sebesar 17.766 jamaah (43,6%).

Untuk diketahui, saat ini sebanyak 41.926 jamaah dari 12 embarkasi telah masuk asrama haji. Sementara berdasarkan data terakhir hari Minggu 14 Agustus 2016 jumlah kumulatif jemaah termasuk dengan petugas yang tiba di Madinah berjumlah 34.280 orang.

Sementara itu data terakhir (14/8), terdapat tiga jmaah haji yang wafat dengan rincian dua jemaah meninggal akibat Cardiovascular Diseases dan satu orang lagi meninggal akibat Infectious and Parasitic Diseases.

Terpisah, Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Muchtaruddin Mansyur mengimbau jemaah haji yang berangkat untuk senantiasa menjaga kesehatan selama di Tanah Suci. “Selalu jaga kebersihan, cukup minum air putih, gunakan alas kaki karena cuaca di sana sangat panas. Dengan kesehatan optimal, ibadah juga akan maksimal,” kata Muchtar,” pungkasnya. (flo/fat/jpnn)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses