Jakabaring-Open Tournament II 2018, Kejuaraan Bulu Tangkis Terbuka tingkat nasional dalam rangka peringatan HUT SMBR ke-44 berlangsung di Jakabaring Sport City, 27 November-1 Desember 2018. Total 428 pebulutangkis yang bersaing dalam kejuaraan ini.
Direktur SDM dan Umum PT Semen Baturaja (Persero) Amrullah mengatakan turnamen ini untuk kali kedua digelar perusahaan setelah tahun lalu sebatas tingkat provinsi. “Semen Baturaja memiliki perhatian ada kemajuan olahraga di Sumsel dan Tanah Air. Pebulutangkis usia muda harus didorong terus untuk lebih baik dengan cara memberikan jam terbang, kali ini kami datangkan atlet-atlet dari Jawa,” kata Amrullah, didampingi Direktur Pemasaran M Jamil.
Ia mengatakan perusahaan berkomitmen untuk kontinu menjalankan turnamen ini secara tahunan karena mendapatkan respon positif dari pencinta olahraga bulu tangkis.
“Dari jumlah peserta ada peningkatan signifikan tahun ini, artinya memang minat meningkat meski tahun ini baru yang kedua,” kata dia.
Sebanyak delapan provinsi yakni Sumut, Riau, Jambi, Lampung, Jakarta, Jateng, Jatim dan Sumsel sebagai tuan rumah ambil bagian pada kejuaraan bulu tangkis tahun ini yang digelar di GOR Dempo JSC.
Selain itu, beberapa klub bulutangkis ternama di Tanah Air juga mengirimkan atletnya seperti wakil dari Chandra Wijaya Club, Eksis, Jaya Raya dan Victory. Selain itu, terdapat juga perwakilan PB Pertamina, PB Pusri, PB Bank Sumsel Babel, PB BNI dan PB Kopri.
Ratusan atlet ini bertanding memperebutkan medali dan uang pembinaan untuk kelompok putra dan putri pada nomor usia dini, anak-anak, remaja, dewasa dan veteran.
Dalam kesempatan ini, PB Semen Baturaja selaku pelaksana kegiatan juga mendatangkan mantan pebulutangkis nasional, Marxis Kido dan Bambang Supriyanto untuk menjadi inspirasi atlet-atlet muda.
Dalam sesi wawancara Marxis Kido mengatakan kegiatan ini sangat positif untuk pembinaan atlet muda di daerah. Menurutnya, Sumsel yang memiliki fasilitas olahraga berstandar internasional, bisa jadi menjadi daerah penghasil atlet muda berbakat apalagi sudah terbukti mampu melahirkan juara dunia yakni Muhammad Aksan dan Deby Susanto.
“Fasilitas sangat mendukung di sini, tapi atlet-atletnya harus sering ikut turnamen di Jawa karena persaingan lebih ketat bisa membuat lebih maju,” kata Marxis.
Senada, Bambang Supriyanto mengatakan penambahan jam terbang ke Jawa mutlak dibutuhkan atlet muda saat memasuki usia 14 tahun jika bercita-cita menjadi atlet nasional. Oleh karena itu, setelah menjalani pembinaan di klub di daerah maka sebaiknya melanjutkan ke klub besar di Jakarta.
“Untuk menjadikan atlet dari daerah itu harus banyak prosesnya. Bukan saya mengecilkan kualitas pelatih di daerah, tapi memang untuk menjadikan seorang atlet itu harus benar-benar ditangani pelatih yang tahu,” kata dia. (kie)
No Responses