MAKASAR - Persaudaraan suporter Sriwijaya FC dan PSM Makssar patut di contoh publik suporter Tanah Air. Persaingan dan pertarungan hanya terjadi pada tim di atas lapangan, sementara di luar lapangan kedua belah pihak merasa bersaudara.
Pembina Ultras Palembang Agung Fahrurrozi menungkapkan tidak ada permusuhan sama sekali. Justru disambut seperti saudara jauh yang sudah lama tak bertemu.
“Rivalitas hanya 90 menit tapi setelah laga kami saudara,” ujar Agung saat dibincangi melalui WhatsApp, Minggu (23/9/18).
Dia pun menceritakan bagaimana hangatnya sambutan Red Gank kepadanya. Bahkan saat pertama mereka menginjakkan kaki di Makssar dijemput langsung oleh tim kemenlu Red Gank dan salah satu suporter Laskar Ayam Jantan di Bandara Sultan Hasanuddin dan langsung dijamu di kediaman Dirijen Red Gank Nona Middi Telleng dengan Makanan khas Makassar Songkolo Begadang.
“Terima kasih atas sambutannya suporter PSM Makassar Red Gank, Laskar ayam jantan, komunitas vip selatan. Mereka benar-benar menjamu kami seperti saudara disini,” ucapnya.
Bagi Agung kehidupan suporter nyatanya seperti itu. Dilanjutkannya memang tidak banyak masyarakat tau betapa nyamannya komunitas suporter klub yang memiliki banyak teman di setiap pelosok Indonesia. Terlebih lagi suporter SFC pun menganggap semua suporter klub di Tanah Air adalah saudara. Bahkan perdamaian suporter SFC juga mencerminkan indahnya kebersamaan suporter.
“Kita akan tetap menjaga perdamaian suporter sampai akhir. Dan juga suporter semua suporter itu bersaudara,” tandasnya. (kie)
No Responses