PALEMBANG - Potensi hujan lebat dan angin kencang pada siang hingga sore hari masih sangat mungkin terjadi pada musim peralihan. Untuk itu, warga diminta terus waspada.
Stasiun Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) SMB II Palembang, mencatat, saat kejadian tersebut, kecepatan angin mencapai 27 knot atau dengan perkiraan 50 meter per jam serta curah hujan mencapai 11 milimeter.
Kasi Data dan Informasi Stasiun Metereologi dan Geofisika (BMKG) SMB II Palembang, Bambang Beni Setiaji. Menurutnya, hujan lebat dan angin kencang yang terjadi di kawasan di Jakabaring, Sabtu (27/10) diakibatkan awan Cumulonimbus (awan hujan hitam pekat). Awan tersebut menyebabkan perbedaan tekanan yang sangat signifikan sehingga dapat menimbulkan angin kencang.
“Dengan kondisi udara yang relatif hangat di sekitar daerah pertumbuhan awan tersebut menyebabkan perbedaan tekanan yang sangat signifikan sehingga dapat menimbulkan angin kencang,” bebernya.
Karakteristik permukaan topografi wilayah Jakabaring sendiri yang relatif rata, lanjut dia, dan sebagian besar merupakan lahan gambut membuat pertumbuhan awan hujan hitam pekat (cumulonimbus) pada wilayah berpotensi menimbulkan signifikan dibanding wilayah lain.
“Selama musim peralihan ini, potensi hujan lebat disertai angin kencang masih tetap ada. Diperkirakan sampai awal bulan depan ini. Karena, bulan depan kita sudah memasuki musim hujan,” beber dia.
Sementara Camat Plaju, Janariah mengungkapkan, pihaknya sudah meninjau sejumlah lokasi yang terkena dampak angin kencang tersebut. Diantaranya, di kawasan komplek PJP dan Tegal Binangun.
“Kebanyakan atap plafon rumah warga yang jebol. Saya sudah ke lokasi, sampai sekarang belum ada yang mengajukan bantuan karena warga bergotong royong dan memperbaiki sendiri,” ungkapnya.
Janariah berharap, agar kejadian ini tidak terjadi lagi dan masyarakat khususnya di wilayah Jakabaring untuk tetap waspada. “Karena, memang masih banyak lahan yang kosong, sehingga kalau ada angin yang sangat kencang memang rentan sekali,” ungkapnya.
Sementara, Samsul (30) warga jalan Tegal Binangun lorong Langgar RT 27 Kelurahan Plaju Darat Kecamatan Seberang Ulu (SU) I Palembang yang rumahnya tertimpa pohon akasia saat hujan deras disertai angin kencang mengatakan pada saat kejadian ia sedang tak ada di rumah.
“Saya sedang kerja waktu Pak, dirumah hanya ada istri dan dua orang anak saya saja,” kata kepada Palembang Pos saat ditemuin dikediamannya. Minggu (28/10).
Diakuinya, ia mendapatkan kabar dari adik iparnya yang mengatakan kalau rumahnya tertimpa pohon akasia. “Jadi waktu tertimpa pohon, mertua saya langsung mendobrak pintu belakang dan membawa istri serta anak saya kerumahnya yang tak jauh dari rumah kami,” ujarnya.
Diceritakan Samsul, sebelum rumahnya tertimpa pohon akasia istrinya (Susi) saat itu tengah merawat anaknya yang pada saat itu masuk angin. Kemudian, istrinya pun hendak menutup pintu rumah yang sedang terbuka.
Dilanjutkannya, karena tak bisa ditutup akhirnya membuat istrinya pun meninggalkan pintu tersebut, “Nah, tak lama dari itu, pohon pun tumbang Pak. Dan menimpa ruang tengah rumah kami, kebetulan istri dan anak saya sedang berada dikamar. Saat dibawa mertua saya istri saya pun digendong karena syok semua barang basah semua,” jelasnya. (ika/cw06)
No Responses