Palembang Percontohan Sekolah Inklusif

Palembang Percontohan Sekolah Inklusif
Wako Palembang, Harnojoyo memberikan santunan untuk siswa ABK. foto : koer/palembang pos
Posted by:

PALEMBANG- Keberhasilan sejumlah sekolah baik Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi sekolah inklusif, membuat Kota Palembang kini menjadi salah satu kota percontohan yang sukses membina sekolah inklusif.

Kedepan, Pemkot Palembang melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Palembang, akan terus mengembangkan sekolah inklusif ini.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Palembang, Ahmad Zulinto SPd MM mengatakan, mengingat pentingnya sekolah inklusif ini, maka nanti Disdikpora akan menambah jumlah sekolah inklusif ke setiap kecamatan. Saat ini, sekolah inklusif baru ada di SD Negeri 30, SD Negeri 173, SD Negeri 124, SD Negeri 118, SD Negeri 220, SMP Negeri 14 dan SMP Negeri 29.

“Untuk itu nanti akan ditambah lagi. Targetnya, 1 kecamatan ada 1 sekolah inklusif ini untuk tingkat sekolah dasar, targetnya ada di 11 kecamatan lagi. Sedangkan untuk SMP, kita bagi per zona. Jadi ada zona Plaju, zona Kertapati, zona Seberang Ilir,” tandasnya.

Sebagai bentuk keseriusan lagi, tambahnya, untuk pengembangan pendidikan inklusif ini, nanti akan dibuat peraturan wali kota tentang penerimaan peserta wajib didik (PPDB). Dimana, nanti setiap sekolah wajib menerima siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Guru di sekolah inklusif ini, akan dilatih oleh guru pembimbing khusus (GPK). Jadi, nanti siswa ABK yang masuk akan diberikan bimbingan yang baik, sehingga merasa tetap nyaman meskipun bersekolah di sekolah regular,” jelasnya.

Sementara, Nuraini, Kepala SD Negeri 30 Palembang mengatakan, sejak tahun 2013 sekolah yang berada di Kelurahan Sei Tawar ini sudah dipercaya untuk menjadi sekolah inklusif. Keberhasilan SD Negeri 30 Palembang ini menjadi sekolah inklusif, membuat sekolah ini menjadi percontohan pendidikan inklusif nasional.

“Saya diminta mewakili Sumsel untuk mengikuti sejumlah penataran di Bandung. Kemudian, juga guru-guru dari Bengkulu, Bandung, Curup dan Bangka juga pernah magang disini untuk belajar,” paparnya.

Saat ini, dari 750 orang siswa SD Negeri 30, 150 orang adalah siswa ABK. “Ada yang autis, cacat tubuh, tunawicara, tunarungu dan IQ rendah,” jelasnya.

Semua anak didik ini, lanjut Nuraini, mendapat perlakuan sama dengan anak didik lainnya. Hanya saja, dibedakan dari sistem penilaian. “Kalau siswa biasa itu standar penilaian sampai 10, tapi siswa ABK itu mungkin standarnya sampai 5. Tapi, Alhamdulillah selama ini siswa ABK bisa mengikuti pelajaran dengan baik,” ungkapnya.

Nuraini menambahkan, untuk siswa autis, pihaknya menyiapkan ruangan terbuka untuk belajar. Ini digunakan, jika siswa autis kesulitan belajar di dalam kelas. “Kita upayakan siswa ABK belajar senyaman mungkin. Sehingga, mereka betah belajar. Kami juga terus koordinasi ke orang tua terkait perkembangan anak,” tandasnya.

Bukan itu saja, tambah Nuraini, guru-guru di SD Negeri 30 juga menanamkan jiwa sosial untuk siswa-siswa lain yang bukan ABK. “Jadi, tidak ada siswa yang melakukan aksi bully kepada siswa ABK. Malah, mereka saling menolong teman-temannya yang ABK,” tambahnya.

Nafisah Putri, siswa ABK Kelas VI mengaku sangat senang bersekolah di SDN 30 Palembang. “Guru-gurunya baik begitu juga teman-temannya, saya jadi semangat belajar,” kata Nafisah yang punya cita-cita jadi guru ini. (ika)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses