Palembang - Manajemen Sriwijaya FC kembali mengeluarkan kritik keras kepada PT Gelora Trisula Semesta (GTS) selaku pengelola kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016. Kali ini bukan soal wasit, melainkan markas Serui yang dianggap tidak layak untuk pertandingan kelas nasional.
Bagaimana tidak, untuk menuju lokasi, Sriwijaya FC harus menempuh perjalanan l;ebih dari 12 jam. Dan itu bukan perjalanan yang nyaman melainkan perjalanan yang menguras tenaga dan energy. Baik fisik atau non fisik.
Bahkan speedboat yang ditumpangi Laskar Wong Kito di perairan Papua ketika pulang menuju pelabuhan Biak dari Serui, Senin (21/11), harus singgah di pulau tak berpenghuni. Kejadian ini menyisakan trauma bagi segenap pemain Sriwijaya FC.
Sekretaris tim Sriwijaya FC Achmad Haris, musim depan jika Serui kembali lolos verifikasi tim yang ikut pertandingan, PSSI atau operator pertandingan harus melakukan verifikasi lebih jelas. Tak hanya melihat lapangan saja, tapi bagaimana jarak tempuh, keamanan pemain, pelatih dan biaya.
”Main di Serui harus ditinjau lagi. Perserui tidak masalah ikut kompetisi, tapi kandangnya harus pindah di Biak atau Mandala Jayapura,” tegas Haris.
Diungkapkan Haris, PT GTS paling utama harus memikirkan keselamatan para pemain. “Sangat melelahkan, belum lagi peristiwa kemarin nyaris mengancam nyawa. Bukan saja Sriwijaya FC yang terombang ambing di laut, kru Arema kemarin kabarnya juga kewalahan ke sana,” bebernya.
Menurut Haris, operator selayaknya dapat mencari tempat pertandingan yang lebih aman dengan mempertimbangkan semua aspek. “Kita sudah tahu tempat ini diluar kewajaran untuk pertandingan, tapi demi mematuhi jadwal kita sangat komitmen,” paparnya.
Haris menyebutkan, keluhan ini bukan ungkapan pribadinya, merupakan laporan dari seluruh anggota tim Sriwijaya FC yang berangkat ke Serui. “Nanti kalau ada apa-apa, siapa yang akan tanggung jawab. PT GTS harus serius memikirkan persoalan ini,” pungkasnya.
Senada disampaikan playmaker Sriwijaya FC Firman Utina. Dirinya yang dibesarkan di Manado yang juga daerah lautan saja mengaku cukup trauma saat menempuh perjalanan ke Serui. ”Ada baiknya dipertimbangkan lagi,” tuntasnya. (kie)
No Responses